<< October 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Oct 25, 2005
RENUNGKAN




Bismillahirrahmannirahim,

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu
di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh
kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka
ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu
(Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa
orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan
sedikit pun?" (Q.S. An Nissa 4.78)

Kematian adalah peristiwa akbar yang akan menimpa siapa saja yang bernama
makhluk hidup. Cepat atau pun lambat, kematian itu pasti akan tiba. Yang
membedakan hanya waktu, siapa yang akan dipanggil lebih dulu dan siapa yang
masih ditangguhkan. Jatah untuk ke arah panggilan itu masing-masing sudah
jelas.

Dalam firman-Nya Allah swt menjelaskan urut-urutan kepastian ini, yang
diawali dengan mengingatkan asal-muasal kejadian manusia sbb:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan
mati." (QS Al-Mu'minun: 12-15)

Kita semua ini tidak lain adalah makhluk-makhluk yang sedang pasrah menunggu
datangnya maut. Suka atau tidak suka. Siap atau pun tidak. Kematian akan
datang juga. Mungkin nanti, besok, lusa atau bahkan setelah kita menikmati
tulisan ini.

Karena kesibukan, orang sering dibuat lupa dengan sunatullah ini. Kesibukan
sering mengantarkan orang lupa pada jadwal tetap yang pasti akan dialami.
Kekagetan biasanya muncul setelah ada sanak-saudara atau tetangga yang
meninggal. Pada saat itu baru kembali muncul kesadaran bahwa panggilan
bergilir ke alam baka masih terus berlanjut. Undangan kematian masih tetap
datang.

Anehnya, banyak informasi kematian yang diterima baik melalui televisi,
majalah, maupun koran, sering tidak menggetarkan hati. Bahkan bernilai
seperti hiburan?  Berita perihal kematian "yang mengerikan sekalipun" tidak
ubahnya dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan
kriminalitas. Kematian Lady Diana, misalnya, ketika peristiwa itu baru
terjadi hampir seluruh masyarakat dunia turut terbelalak, menangis,
histeris. Seolah tidak yakin kalau hukum kepastian ini juga berlaku untuk
seorang manusia bernama Diana. Mereka meraung dan meratap: "Ooh.. mengapa
orang seperti dia harus mati. Mengapa di usia yang semuda itu harus
meninggalkan dunia?"

Lolongan itu justru aneh, karena lupa di balik itu masih ada jadwal
panggilan untuk dirinya juga, sudah ada di depan matanya, sudah beberapa
saat lagi tiba gilirannya.  Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari
peristiwa apapun di dunia ini. Tidak pula karena wafatnya orang terkenal,
pemimpin dunia, public figure, atau apapun namanya dengan seorang TKW yang
meninggal karena teraniaya. Semuanya kembali pada perjalanan akhir yang
bersangkutan, adakah nilai iman dan taqwa di dalam hatinya. itulah bekal
yang paling baik sekembalinya manusia setelah mengarungi hidup di dunia.
Taqwa itulah bekal kembali yang paling baik setelah manusia berpulang ke
alam baqa sana. Bila ada bekal takwa berarti ada bekal yang siap dibawanya
untuk 'melapor' di hadapan Tuhan.

Mengapa peristiwa kematian tidak banyak mengundang kesadaran? Padahal di
sana lengkap terpampang sejumlah mayat yang bergelimpangan, juga dengan
uraian-uraian kejadian yang kadang didramatisir media massa sehingga nampak
begitu negerikan? Mengapa jadi demikian?

Kejadian seperti itu tidak lain karena manusia telah begitu lelah menghadapi
kehidupan ini. Manusia telah disibukkan oleh berbagai kegiatan mencari
penghidupan yang membuatnya lupa. Juga dipadatkan oleh masalah yang
bertumpuk. Masalah itu setiap hari semakin bertambah banyak. Karena
kelelahan itulah hingga informasi yang datangnya dari kampung akhirat bukan
bernilai pendidikan dan peringatan lagi.

Menyangkut hal ini, salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah
saw, "Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari
sisi Allah." Nabi saw lalu bersabda, "Perbanyaklah mengingat kematian, maka
kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur.
Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa.
Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul." (H.R
Ath-Thabrani)

Ingat pada kematian akan membuat manusia punya kendali. Pangkal dari lupa
dan keserakahan sebenarnya bermula dari sini, tidak ingat akan mati. Yang
dibayangkan bagaimana bisa hidup lebih lama, bersenang-senang lebih banyak,
dan dapat menghabiskan waktunya untuk bersuka-ria dengan leluasa. Kalau ada
jatah, bahkan minta umurnya lebih lama hingga seribu tahun!

Rasulullah saw bersabda, "Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan
keyakinan sebagai kekayaan." (HR Ath-Thabrani)

Seandainya kematian ini telah dipetik sebagai pendidik (guru) hati manusia
secara otomatis akan terkendali. Kecurangan, kerakusan, kesombongan dan
berbagai bentuk penyakit hati yang bersarang di dada akan dibunuh oleh
takutnya pada mati.

Sebagus apapun rupa, pada akhirnya akan binasa. Secantik bagaimanapun istri
yang kita miliki, anak yang kita sayangi, perhiasan dan istana yang ada,
semua akan ditinggalkan juga. Semuanya akan diakhiri oleh kematian.

Karena hukum pastinya ini Nabiyullah yang mulia saw mengingatkan agar dalam
pergaulan kita tidak mudah tertipu oleh bayang-bayang. Kita tidak
diperbolehkan memvonis seseorang itu baik atau jahat, beruntung atau celaka.
Karena kunci dari semua itu adalah pada ujung perjalanannya.

Kalau Dia memutuskan untuk memberi hidayah terhadap seseorang, maka tentulah
ada dari seseorang itu nilai yang baik yang layak sebagai landasan pemberian
petunjuk itu. Ketentuan dan kehendak Allah di luar kaidah apapun yang
dikenal manusia, hanya saja Dia menunjukkan cara yang bisa dipahami,
misalnya dengan kaidah sebab-akibat.

Semua itu terjadi karena kehendak Allah terhadap makhluk-Nya agar sunnah-Nya
dipelajari, direnungkan, dan dihayati apa makna-maknanya. Dan yang
terpenting agar kita dijauhkan dari akhir kehidupan yang rugi dan sia-sia,
suul-khatimah. Marilah kita ingat sekali lagi, bahwa kita akan mati, dan
mungkin saja itu terjadi besok pagi.

Wallahu'alam bishawab.


Posted at 12:09 pm by abunawir

thereconcile
November 5, 2005   10:36 AM PST
 
Jesus Christ is the one and only God. He loves you so passionately. He desires for you to know and love Him. He so desires for you to turn from your sinfulness and be forgiven of your sins. You can live with Him forever if you repent of your sins and believe that He died for your sins and rose from the grave for your justification. Check out www.thereconcile.blogspot.com for more detailed information.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home